SIDODADI, PATEAN – Upaya melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat karakter pelajar terus dilakukan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Patean. Salah satunya melalui kegiatan pertemuan rutin anjangsana yang kali ini berkolaborasi dengan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kecamatan Patean. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Masjid Al-Muniri, Kalimargosari, Desa Sidodadi, pada Ahad (11/10/2026) siang.
Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB ini diikuti oleh perwakilan Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU se-Kecamatan Patean, mulai dari jajaran pengurus PAC hingga perwakilan ranting. Turut hadir jajaran Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Sidodadi serta badan otonom NU setempat. Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan Wahyu Kusbiantoro, tokoh budayawan NU Patean sekaligus Ketua Lesbumi NU Kecamatan Patean, sebagai narasumber.
Mengusung tema “Nguri-uri Budaya, Ngeluhurake Karakter Pelajar”, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran pelajar akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya lokal. Hal ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap semakin lunturnya kecintaan generasi muda terhadap tradisi dan nilai-nilai budaya di lingkungan mereka.
PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Patean menilai bahwa tantangan pelajar saat ini tidak hanya berkaitan dengan bidang akademik dan organisasi, tetapi juga menyangkut penguatan identitas budaya. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Lesbumi NU menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan pelajar dengan kekayaan seni, tradisi, dan kearifan lokal.
Ketua PAC IPNU Patean menegaskan bahwa kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis agar pelajar tidak hanya aktif dalam berorganisasi, tetapi juga mengenal, memahami, dan bangga terhadap budayanya sendiri.
Kegiatan dikemas secara dialogis dan santai sehingga peserta dapat terlibat aktif dalam diskusi. Dalam pemaparannya, Wahyu Kusbiantoro tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak peserta memahami budaya dalam perspektif Nahdlatul Ulama. Seperti seni hadrah, tradisi selamatan, hingga unggah-ungguh atau tata krama Jawa yang perlu terus dijaga di tengah perkembangan zaman.
“Nguri-uri itu artinya merawat yang sudah ada, bukan membuat yang baru. Kalau budaya kita rawat, budaya itu pula yang akan ngeluhurake, meninggikan derajat kita sebagai pelajar,” jelas Wahyu.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Sejumlah rekan dan rekanita turut berbagi pengalaman mengenai tradisi dan praktik budaya yang masih berkembang di desa masing-masing.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk menindaklanjuti kolaborasi melalui program kerja antara IPNU-IPPNU dan Lesbumi NU Kecamatan Patean di bidang pelestarian seni dan budaya Islam Nusantara. Melalui kerja sama ini, diharapkan pelajar tidak hanya menjadi generasi yang aktif dan berkarakter, tetapi juga mampu menjaga serta meneruskan kekayaan budaya kepada generasi berikutnya.
Kontributor : Jarkominfo PAC IPNU-IPPNU Kec. Patean
Editor : Muhammad Ataka Al Ila

Komentar
Posting Komentar