Langsung ke konten utama

CHAPTER 1 : Hal yang Biasa

 






CHAPTER 1
Hal yang Biasa

“…karena manusia lebih sering menjalani hidup daripada memikirkannya.”

 

Shopian tidak pernah benar-benar memikirkan hidupnya.

Ia bangun pagi seperti kebanyakan orang, lalu pergi kuliah. Ia duduk mendengarkan dosen berbicara selama berjam-jam tentang hal-hal yang mungkin akan terlupakan beberapa minggu kemudian. Setelah itu, ia pulang pada sore hari, bermain ponsel hingga malam, lalu tidur.

Keesokan harinya, semua itu terulang kembali. Semua orang juga melakukannya.

Mungkin karena semua orang melakukannya, tidak ada yang merasa perlu dipertanyakan apakah hidup memang seharusnya seperti itu.

Shopian juga tidak pernah bertanya. Ia bukan tipe orang yang gelisah memikirkan masa depan atau sibuk mencari makna hidup. Teman-temannya mengenalnya sebagai sosok yang cukup santai. Ia tertawa ketika yang lain tertawa. Ia ikut nongkrong jika diajak. Ia menjalani hari-harinya tanpa banyak protes.

Akan tetapi, belakangan ini, terutama pada malam hari, Shopian mulai merasakan sesuatu yang aneh. Bukan pada hidupnya, melainkan pada cara manusia menjalani kehidupan itu sendiri.

Kadang, saat berada di jalan raya, ia memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang dengan tergesa-gesa, seolah masing-masing sedang mengejar sesuatu yang tidak boleh terlewatkan.

Semua orang tampak seperti sedang mengejar sesuatu. Motor melaju cepat, klakson saling bersahutan, dan orang-orang tetap menatap layar ponsel mereka bahkan saat berjalan.

Semakin lama Shopian memperhatikannya, semakin kuat muncul sebuah pertanyaan yang sulit ia jelaskan:

“Apakah mereka benar-benar tahu ke mana mereka sedang pergi?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, bahkan sedikit aneh. Namun, entah mengapa, Shopian tidak bisa begitu saja melupakannya.

Malam itu, Shopian keluar rumah karena tidak bisa tidur. Udara dingin setelah hujan membuat gang-gang kecil di kampungnya terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya lampu jalan memantul kekuningan di permukaan aspal yang masih basah.

Shopian berjalan tanpa tujuan yang jelas. Ia melewati warung Pak Soleh yang hampir tutup, mushala kecil dengan cat yang mulai memudar, lalu lapangan kosong yang pada malam hari selalu tampak muram.

Sampai akhirnya, langkahnya terhenti di depan sebuah rumah kontrakan tua yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ia perhatikan.

Lampunya masih menyala. Pintunya terbuka sedikit. Dari dalam terdengar suara beberapa orang yang sedang berbicara.

Shopian berhenti sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari suara-suara itu. Bukan obrolan biasa seperti yang sering ia dengar. Mereka terdengar sedang membahas sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sesekali terdengar tawa kecil, lalu suasana kembali hening beberapa saat sebelum seseorang mulai berbicara lagi. Entah mengapa, kesannya seperti sekumpulan orang yang sedang mencari jawaban atas sesuatu.

Rasa penasaran membuat Shopian melangkah mendekat.

Di dalam rumah itu, beberapa anak muda tampak duduk melingkar. Sebagian duduk lesehan di lantai, sementara yang lain duduk di kursi plastik sambil memegang buku dan catatan.

Di dekat dinding, sebuah papan tulis kecil bersandar miring. Pada papan itu tertulis sebuah kalimat:

“Apa arti bahagia?"

Shopian menatap tulisan itu cukup lama.

Aneh, pertanyaannya begitu sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia tersadar bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar memikirkannya. Ia belum pernah bertanya pada dirinya sendiri apa sebenarnya arti kebahagiaan.

Malam itu, Shopian pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Kamarnya terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Tangannya sesekali mengusap pelan janggut tipis yang mulai tumbuh kasar di dagunya, sementara pikirannya tenggelam dalam renungan.

“Apa arti kebahagiaan?" Pertanyaan itu kembali terpikirkan dalam benaknya.

Bukankah semua orang menginginkannya? Kalau begitu, mengapa banyak orang tetap terlihat lelah meski telah mendapatkan apa yang mereka inginkan? Mengapa manusia terus mengejar sesuatu, tetapi jarang benar-benar merasa puas? Dan mengapa mereka terbiasa menjalani hidup tanpa pernah berhenti untuk mempertanyakannya?”

Shopian mulai memejamkan mata.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa bahwa mungkin ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Sesuatu yang sebenarnya sangat dekat, tetapi tak pernah benar-benar ia sadari.

Tiga hari kemudian, ia kembali melewati rumah kontrakan itu.

Kali ini, tempat itu tampak sepi. Pintunya tertutup rapat dan lampunya padam. Namun, di teras depan, selembar kertas tampak tertiup angin.

Shopian memungutnya.

Di atas kertas itu hanya tertulis satu kalimat pendek: “Know thyself.”

“Kenalilah dirimu sendiri.”

Tidak ada nama penulis. Tidak ada penjelasan apa pun. Hanya kalimat itu yang tertulis pada kertas.

Di bagian bawah kertas, terdapat sebuah simbol kecil yang digambar dengan tinta hitam, sebuah lingkaran dengan satu titik kecil tepat di tengahnya.

Shopian menatap simbol itu selama beberapa saat. Entah mengapa, ia merasa seolah simbol tersebut sedang menyampaikan sesuatu kepadanya. Namun, ia belum mengerti apa maksudnya.

Untuk pertama kalinya, Shopian merasakan sebuah rasa penasaran yang berbeda. Bukan rasa ingin tahu tentang dunia di sekitarnya, melainkan tentang dirinya sendiri.

Sejak malam itu, pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan satu per satu dalam benaknya.

BERSAMBUNG .....



Kontributor: Ahmad K. Nizam

Editor : Muhammad Ataka Al Ila

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAC IPNU IPPNU Kota Kendal Masa Khidmat 2025 - 2027 Resmi Dilantik

  Acara ini dilaksanakan di Hotel Sae Inn, pada tanggal Sabtu, 26 Juli 2025. Tema pada pelantikan ini yaitu Transformasi Kepemimpinan IPNU-IPPNU Menuju Kemandirian dan Keberlanjutan. Pemilihan tema tersebut disesuaikan dengan kondisi lapangan yang mengharuskan organisasi ini mandiri dan berkelanjutan dengan kepengurusan sebelumnya. "Pelaksanaan pelantikan di lokasi tersebut memiliki alasan, karena lokasi tersebut sangat strategis dan berada di tengah-tengah kecamatan kota Kendal" Ujar Istu Fadilah selaku Ketua Panitia Pelantikan. Dalam acara tersebut mengundang beberapa tamu undangan seperti MWC NU Kota Kendal, Camat Kota Kendal, Kapolsek Kota Kendal, Danramil Kendal, Majelis Alumni PAC IPNU dan IPPNU Kota Kendal, PC IPNU dan IPPNU Kendal, PAC IPNU dan IPPNU tetangga dan Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat    se- Kecamatan Kota Kendal. Kegiatan ini merupakan suatu kewajiban dalam berorganisasi, karena tanpa pelantikan maka tidak akan menghasilkan pemimpin ...

Hasil Konferancab XVII PAC IPNU-IPPNU KOTA KENDAL : Semoga Menghasilkan Ketua Terpilih yang Dapat Membawa Kebermanfaatan

    Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPPNU) Kota Kendal menggelar Konferensi Anak Cabang (Konferancab) IPNU IPPNU XVII pada 8 Juni 2025. Acara ini dilaksanakan di SMA NU 01 Al Hidayah Kendal dengan mengundang dari MWC NU Kecamatan Kendal, Banom NU Kecamatan Kendal, PC IPNU - IPPNU KENDAL, PC IPM Kendal serta beberapa stakeholder terkait. Selain itu, lokasi tersebut dipilih karena tempatnya yang strategis dan fasilitas cukup memadai, serta pengenalan salah satu sekolah yang ada dibawah naungan LP Ma'arif NU. Ketua Panitia Konferancab, Jaka Purwanto, menegaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk mengevaluasi program kerja serta memilih ketua untuk masa khidmat dan masa bakti selanjutnya. Dalam pencalonan ini terdiri beberapa calon yang sudah direkomendasikan oleh beberapa Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Komisariat (PK) yang ada di Kecamatan Kendal. Ketua Tanfidziah MWC NU Kendal, KH. Mokh A...

Philosophia Chapter 05 : Meneropong Masa Depan: Teknologi dan Kehidupan Baik

    Pagi itu, bau kopi susu Bu Tinah dari kantin udah nyampur sama aroma khas lab komputer yang agak-agak "rumah sakit" gitu. Rina, si kacamata yang kadang miring, lagi serius mantengin layar. Di sebelahnya, Bima ikutan melotot ke deretan kode yang bikin pusing. Mereka berdua, bukan geng hits di sekolah, tapi punya satu passion yang sama: AI, atau si robot pinter . "Lihat nih, Bim," Rina nunjuk layar, matanya berbinar. "Gue udah berhasil ngelatih model ini buat nebak cuaca dari data-data lama. Dikit lagi, dia bisa prediksi hujan besok!" Bima nyamperin, kepo. "Gila, Rin, keren banget! Tapi... bedanya apa sama ramalan cuaca di TV? Kan itu cuma angka sama rumus doang, ya?" Rina nyengir tipis. "Justru itu poinnya. Ini bukan sekadar ramalan biasa. Ini soal mesin yang bisa belajar . Dia nyerap info dari data, dari pengalaman, persis kayak kita belajar dari buku. Bedanya, dia jauh lebih ngebut." Hening sebentar, otak Bima muter. ...