A.
Peradaban Pada
Dinasti Umayyah di Damaskus
1.
Pemerintahan
dan Administrasi
a.
Sistem Monarki:
Dinasti Umayyah mengubah sistem
pemerintahan menjadi monarki turun-temurun, dimulai ketika Muawiyah mewajibkan rakyatnya
menyatakan setia kepada anaknya, Yazid. Meskipun banyak yang meragukan
keputusan tersebut, kekhalifahan Dinasti Umayyah di Damaskus dapat berdiri
selama 90 tahun dengan sistem monarki tersebut. Bahkan, sistem monarki ini juga
diterapkan oleh pemerintahan Islam pada masa-masa sesudahnya, misalnya Bani
Abbasiyah, Dinasti Fatimiyah, Turki Utsmani, dan sebagainya. Akibat sistem
pemerintahan ini, dewan permusyawaratan dan dewan penasihat tidak berfungsi
dengan baik. Tradisi musyawarah dan kebebasan berpendapat tidak lagi
ditegakkan. Hak bicara rakyat ditekan dan kritik mereka atas kebijakan
pemerintah tidak dapat tersampaikan kepada khalifah secara langsung, tetapi
melalui hajib (penjaga pintu).
b.
Pusat
Pemerintahan: Muawiyah bin
Abu Sufyan, khalifah pertama Dinasti Umayyah, memindahkan ibu kota negara dari
Madinah ke Damaskus. Damaskus menjadi pusat pemerintahan kekhalifahan setelah
Dinasti Umayyah berdiri. Pemindahan ini dilakukan atas dasar pertimbangan
politis dan keamanan. Damaskus jauh dari Kufah, pusat kaum Syi'ah (pendukung
Ali), dan juga jauh dari Hijaz, tempat tinggal Bani Hasyim dan Bani Umayyah,
sehingga bisa terhindar dari konflik yang lebih tajam antar dua bani tersebut
dalam memperebutkan kekuasaan.
c.
Administrasi
Pemerintahan: Dinasti
Umayyah mencontoh gaya kepemimpinan Persia dan Romawi Timur (Byzantium).
Kekaisaran dibagi menjadi beberapa provinsi, yang batas wilayahnya berubah
berkali-kali selama pemerintahan Umayyah. Setiap provinsi memiliki seorang
gubernur yang ditunjuk oleh khalifah. Gubernur bertanggung jawab atas pejabat
agama, pemimpin militer, polisi, dan administrator sipil di provinsinya.
Pengeluaran lokal dibayar dengan pajak yang berasal dari provinsi tersebut,
dengan sisanya setiap tahun dikirim ke pemerintah pusat di Damaskus.
2.
Kemajuan Yang
Dicapai
a.
Sistem
pemerintahan: Berbagai
kemajuan dalam sistem pemerintahan berhasil dicapai Bani Umayyah.
b.
Ilmu
Pengetahuan: Selain
kemajuan dalam sistem pemerintahan, Dinasti Umayyah juga mencapai kemajuan
dalam bidang ilmu pengetahuan.
c.
Ekonomi:
Jalur perdagangan semakin lancar,
contohnya pelabuhan Basrah di Teluk Persia. Pencetakan mata uang khusus dan penerapan gaji
tetap untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3.
Organisasi
Pemerintahan
a.
Lima Diwan
Dinasti Umayyah: Al-nidham
al-shiyasy (organisasi politik), al-nidaham al-idary (organisasi tata usaha
negara), al-nidham al-maly (organisasi keuangan/ekonomi), al-nidham al-harby
(organisasi pertahanan), al-nidham al qadhi (organisasi kehakiman).
b.
Lima Katib: Katib al-rasail (sekretaris negara), katib al-karraj (sekretaris
negara pendapatan), katib al-jamd (sekretaris militer), katib al-syurthut
(sekretaris kepolisian), dan katib al-qodhi (sekretaris kehakiman).
Muawiyah adalah seorang politikus dan administrator yang pandai,
cakap dalam urusan politik pemerintahan, cerdas dan jujur, negarawan yang ahli
bersiasat, piawai merancang taktik dan strategi juga gigih, ulet dan bersedia
menempuh segala cara berjuang untuk mencapai cita-citanya dengan pertimbangan
politik dan situasi. Berwatak keras dan tegas tetapi juga toleran dan lapang
dada. Ia perspekter
dan inovatif dalam membuat berbagai kebijakan politik. Fokus utama kekuasaan Bani
Umayyah adalah perluasan wilayah, hal ini berbeda dengan pemimpin sebelumnya,
terutama zaman Khulafaur Rasyidin.
B.
Peradaban Islam
Pada Masa Dinasti Abbasiyah
Peradaban Islam
pada masa Dinasti Abbasiyah mengalami puncak kejayaan. Kemajuan ilmu
pengetahuan diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing ke dalam bahasa
Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Baitul Hikmah, serta
terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan.
1.
Pemerintah dan
politik
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 750 M setelah menggulingkan Dinasti
Umayyah, awalnya pusat pemerintahan berada di Kufah, Irak. Pada tahun 762 M,
Khalifah Al-Mansur memindahkan ibu kota ke Baghdad, yang dibangun sebagai kota
baru di tepi Sungai Tigris dekat bekas ibu kota Persia dan kota Sasaniyah,
Tisfon. Dinasti ini tidak hanya melanjutkan tradisi pemerintahan yang mapan,
tetapi juga membuka lembaran baru dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan seni.
Sistem pemerintahan yang terorganisasi dengan baik, dengan posisi-posisi
seperti wazir (menteri) yang mengurus administrasi, hakim (qadhi) yang
menangani urusan pengadilan, dan jenderal (amir) yang memimpin militer,
membantu menjaga stabilitas dan efisiensi pemerintahan. Khalifah, sebagai
penguasa tertinggi, tetap menjadi simbol persatuan dan otoritas agama, memimpin
dengan gaya pemerintahan yang menggabungkan kekuatan politik dan pengaruh
spiritual.
2.
Pusat ilmu
pengetahuan dan kebudayaan
Baghdad menjelma menjadi pusat intelektual dunia, menarik para
ilmuwan, cendekiawan, dan seniman dari berbagai penjuru. Baitul Hikmah, sebuah
perpustakaan dan pusat penerjemahan, memainkan peran kunci dalam melestarikan
dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Karya-karya klasik dari Yunani, Persia, dan
India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, membuka jalan bagi perkembangan ilmu
pengetahuan di dunia Islam. Matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan
sastra berkembang pesat, menghasilkan tokoh-tokoh besar yang namanya harum
hingga kini.
3.
Arsitektur dan
Infrastruktur
Arsitektur Baghdad juga mencerminkan kemajuan peradaban pada masa
itu. Kota ini dibangun dengan tembok melingkar yang kokoh, pintu gerbang yang
megah, dan kubah-kubah yang indah. Masjid, madrasah, istana, observatorium, dan
rumah sakit didirikan sebagai pusat kegiatan masyarakat dan simbol kemajuan
peradaban. Kota ini menjadi bukti nyata dari kemajuan teknik dan seni
arsitektur yang menggabungkan tradisi Persia dan Islam.
4.
Ekonomi dan
sosial
Ekonomi Abbasiyah juga mengalami kemajuan pesat. Perdagangan
berkembang luas, menghubungkan Baghdad dengan berbagai wilayah di dunia.
Pendapatan negara meningkat dari pajak hasil bumi dan perdagangan, memungkinkan
pemerintah untuk membiayai berbagai proyek pembangunan dan memberikan
kesejahteraan kepada masyarakat. Masyarakat Abbasiyah hidup dalam tatanan
sosial yang teratur, dengan pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas.
5.
Dinamika
politik dan tantangan
Setelah masa
kejayaan Harun ar-Rasyid, Abbasiyah mengalami konflik internal dan perang
saudara yang menyebabkan melemahnya kekuasaan pusat. Pada abad ke-9, kekuasaan Abbasiyah mulai terdesentralisasi dengan
munculnya dinasti-dinasti lokal seperti Aghlabiyyah, Samaniyah, dan Thuluniyah
yang menguasai berbagai wilayah kekaisaran. Pada abad ke-10 dan ke-11,
kekuasaan militer dan politik di Baghdad sempat dikuasai oleh dinasti Buwaihi dan
kemudian oleh Seljuk, meskipun khalifah Abbasiyah tetap menjadi simbol religius
dan penguasa titular.
C.
Peradaban Islam
Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
Dinasti Ayyubiyah merupakan salah
satu masa penting dalam sejarah peradaban Islam yang didirikan oleh Salahuddin
al-Ayyubi pada tahun 1171. Dinasti ini menggantikan kekuasaan Dinasti Fatimiyah
di Mesir dan wilayah sekitarnya, serta menandai kebangkitan kekuasaan Sunni
setelah sebelumnya wilayah tersebut dikuasai oleh Fatimiyah yang bermazhab
Syiah. Salahuddin dikenal sebagai seorang pemimpin militer dan politik yang
cerdas, terutama karena keberhasilannya merebut kembali Yerusalem dari Tentara
Salib pada tahun 1187. Keberhasilan ini tidak hanya memiliki dampak besar
secara militer, tetapi juga memperkuat posisi Islam Sunni di wilayah tersebut.
Dalam bidang politik dan
pemerintahan, Dinasti Ayyubiyah menerapkan sistem kepemimpinan yang
menggabungkan unsur sentralisasi dan pembagian kekuasaan kepada anggota
keluarga serta para pejabat terpercaya. Meskipun kekuasaan pusat tetap kuat,
pengelolaan wilayah-wilayah tertentu diserahkan kepada para gubernur yang
memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa utama. Hal ini membantu menjaga
stabilitas politik dan memperkuat kontrol atas wilayah yang luas, mulai dari
Mesir, Suriah, hingga Yaman.
Selain aspek politik dan militer,
Dinasti Ayyubiyah juga memberikan perhatian besar pada bidang pendidikan dan
ilmu pengetahuan. Pada masa ini, kota-kota seperti Damaskus dan Kairo
berkembang menjadi pusat intelektual dan pendidikan Islam. Banyak madrasah
didirikan untuk menyebarkan ajaran Islam Sunni, khususnya mazhab Syafi’i yang
menjadi mazhab resmi dinasti ini. Madrasah-madrasah tersebut tidak hanya
berfungsi sebagai tempat belajar agama, tetapi juga sebagai pusat pengembangan
ilmu pengetahuan dan filsafat. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan ini
membantu melahirkan para ulama dan cendekiawan yang berperan penting dalam
perkembangan peradaban Islam.
Di
bidang kebudayaan, Dinasti Ayyubiyah meninggalkan jejak yang kuat melalui
pembangunan berbagai bangunan monumental dan karya arsitektur yang megah.
Misalnya, menara Masjid Agung Aleppo dan tembok kota Aleppo merupakan contoh
arsitektur yang masih dikenang hingga kini. Selain itu, madrasah-madrasah
seperti Madrasah Al-Firdaus dibangun dengan desain yang indah dan fungsional,
menjadi simbol kejayaan seni dan budaya Islam pada masa itu. Pembangunan
masjid, istana, dan fasilitas umum lainnya turut memperkaya kehidupan sosial
masyarakat dan memperkuat identitas Islam di wilayah kekuasaan Ayyubiyah.
Dalam aspek sosial dan keagamaan,
Dinasti Ayyubiyah menunjukkan sikap toleran terhadap umat non-Muslim, terutama
setelah merebut Yerusalem. Salahuddin dan penerusnya memberikan perlindungan
kepada komunitas Yahudi dan Nasrani di kota suci tersebut, sehingga ketiga
agama besar tersebut dapat hidup berdampingan dalam waktu yang relatif lama.
Namun, secara internal, dinasti ini juga berusaha menegakkan dominasi Sunni dan
mengurangi pengaruh kelompok Syiah, terutama yang terkait dengan Fatimiyah,
melalui kebijakan pendidikan dan sosial yang ketat.
Ekonomi pada masa Dinasti Ayyubiyah
juga mengalami kemajuan signifikan. Mereka menguasai jalur perdagangan penting
di Laut Merah yang menghubungkan wilayah Arab dengan Samudra Hindia dan Asia
Selatan. Penguatan pelabuhan dan fasilitas perdagangan di sepanjang jalur ini
meningkatkan kemakmuran wilayah kekuasaan mereka. Perekonomian yang kuat ini
mendukung pembangunan infrastruktur dan pengembangan kebudayaan serta
pendidikan yang menjadi ciri khas peradaban Islam pada masa Ayyubiyah.
Kontributor : Azlyn Septia
Sari
Editor : Ahmad
Robith

Komentar
Posting Komentar