Dalam satu dekade terakhir, dunia
menyaksikan paradoks yang pelik: kapitalisme global makin hegemonik, namun
semakin banyak pula orang yang mempertanyakan keadilannya. Sementara komunisme
sebagai sistem ekonomi-politik tidak lagi dominan secara global, ide-ide
utamanya kembali hidup dalam wacana sosial, protes jalanan, hingga meme
digital. Di tengah dua ekstrem itu, mayoritas masyarakat dunia—termasuk
Indonesia—hidup dalam sistem ekonomi hibrida, yang sulit disebut sepenuhnya
kapitalis, namun jauh dari cita-cita komunisme. Kita terjebak di tengah-tengah.
Kapitalisme:
Keberhasilan Ekonomi, Kegagalan Sosial?
Kapitalisme telah menghasilkan
inovasi luar biasa. Internet, vaksin mRNA, kendaraan listrik—semua ini
berkembang dalam sistem berbasis pasar. Namun kapitalisme juga menciptakan
kontradiksi: ketimpangan ekstrem, eksploitasi tenaga kerja, dan krisis iklim.
Menurut laporan Credit Suisse tahun
2023, 1% populasi dunia menguasai hampir 45% total kekayaan global1. Sementara itu, setengah dari
populasi dunia hanya memiliki kurang dari 1%. Data ini bukan sekadar angka; ia
mencerminkan kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti
kemajuan kolektif.
Kapitalisme juga memperparah krisis
iklim. Laporan Carbon Majors Database menunjukkan bahwa 100 perusahaan
bertanggung jawab atas 71% emisi karbon global sejak 19882. Di bawah sistem berbasis
keuntungan, kelestarian lingkungan sering menjadi prioritas kesekian.
Komunisme:
Gagasan Mulia, Praktek Bermasalah?
Di sisi lain, komunisme menawarkan
cita-cita kesetaraan radikal: masyarakat tanpa kelas, tanpa kepemilikan pribadi
atas alat produksi, dan distribusi kekayaan secara adil. Dalam teori, komunisme
berjanji membebaskan manusia dari eksploitasi dan penindasan ekonomi. Namun
dalam praktik, banyak rezim yang mengklaim komunis justru menjadi otoriter dan
menindas.
Uni Soviet, misalnya, runtuh pada
1991 setelah tujuh dekade pemerintahan yang sempat membawa industrialisasi
besar-besaran, namun juga kelaparan, pembersihan politik, dan pelarangan
oposisi. Maoisme di Tiongkok menghasilkan Revolusi Kebudayaan yang penuh
kekerasan. Kuba dan Korea Utara juga menunjukkan bagaimana sistem ekonomi
terpusat dapat mematikan kreativitas dan kebebasan warga.
Namun, tidak semua warisan
komunisme adalah kegagalan. Di Vietnam dan Tiongkok, unsur-unsur komunisme
berpadu dengan mekanisme pasar, menciptakan model yang disebut “sosialisme
dengan karakteristik nasional”. Tiongkok, dengan GDP lebih dari USD 17 triliun
(2023), menjadi kekuatan ekonomi kedua dunia. Tapi keberhasilan ekonomi itu
datang dengan ongkos tinggi: represi politik, ketimpangan sosial baru, dan
kontrol negara atas kehidupan warga3.
Sistem
Hibrida dan Posisi Kita
Mayoritas negara hari ini tidak
sepenuhnya komunis ataupun kapitalis. Mereka menggabungkan mekanisme pasar
dengan intervensi negara. Negara-negara Skandinavia adalah contoh populer.
Swedia, Norwegia, dan Denmark memiliki ekonomi pasar yang dinamis, namun juga
sistem kesejahteraan universal, pajak tinggi bagi kaya, dan layanan publik
berkualitas. Model ini kadang disebut sebagai “sosialisme demokratis”.
Di Indonesia sendiri, UUD 1945
pasal 33 menyatakan bahwa “bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara
dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Ini bukan
kapitalisme laissez-faire, tapi juga bukan komunisme. Kita hidup dalam sistem
hibrida, di mana negara memiliki peran penting—meski seringkali kalah kuasa
dibanding korporasi.
Ironisnya, dalam praktik, banyak
kebijakan publik justru cenderung pro-pasar. Subsidi dicabut, BUMN diswastakan,
dan kebijakan fiskal sering berpihak pada pemodal. Sementara itu, layanan dasar
seperti pendidikan dan kesehatan masih jauh dari universal dan gratis. Di
sinilah letak keterjebakan kita: antara idealisme konstitusi dan praktik
neoliberalisme.
Kenapa
Kita Tidak Puas?
Banyak orang merasa sistem saat ini
tidak adil, tapi tidak yakin alternatif seperti komunisme bisa menjadi solusi.
Menurut Edelman Trust Barometer 2023, 57% responden global menyatakan bahwa
“kapitalisme dalam bentuknya saat ini lebih banyak merugikan daripada
menguntungkan dunia”4. Namun pada saat yang sama,
kepercayaan terhadap pemerintah dan partai politik juga rendah. Artinya,
ketidakpuasan tumbuh, tapi saluran ekspresinya belum jelas.
Generasi muda kini menjadi motor
utama pencarian sistem alternatif. Di Amerika Serikat, survei Gallup (2021)
mencatat bahwa 49% anak muda berusia 18–34 tahun memiliki pandangan positif
terhadap sosialisme5. Di berbagai negara, gerakan
koperasi, ekonomi solidaritas, dan ekosistem digital berbasis komunitas tumbuh
sebagai eksperimen kecil atas ekonomi yang lebih adil dan kolektif.
Menuju
Sistem yang Lebih Manusiawi?
Kita tidak perlu memilih secara
dogmatis antara kapitalisme dan komunisme. Dunia butuh sistem baru yang lebih
fleksibel, demokratis, dan berkeadilan. Sistem yang mengakui peran pasar tapi
tidak tunduk pada logika keuntungan semata. Sistem yang menempatkan manusia dan
lingkungan di atas laba.
Mungkin kita perlu berhenti
bertanya, “Apakah ini kapitalis atau komunis?”, dan mulai bertanya, “Apakah
sistem ini adil? Apakah ia memberdayakan manusia? Apakah ia menjaga bumi untuk
generasi berikutnya?”
Di tengah keterjebakan ini, mungkin
justru terbuka ruang untuk berpikir radikal—bukan dalam arti ekstrem, tapi
dalam arti kembali ke akar persoalan: siapa yang memiliki, siapa yang mengatur,
dan untuk siapa sistem ini bekerja.
Kontributor
: Liya Mustahida
Editor : Ahmad Robith
Refrensi:
- Credit
Suisse. (2023). Global Wealth Report. https://www.credit-suisse.com
- Carbon
Disclosure Project. (2017). Carbon Majors Report. https://cdp.net
- World
Bank. (2023). GDP Data. https://data.worldbank.org
- Edelman.
(2023). Trust Barometer 2023.
https://www.edelman.com/trust-barometer
- Gallup.
(2021). Socialism vs Capitalism Survey. https://news.gallup.com

Komentar
Posting Komentar