Langsung ke konten utama

Bulan Ramadhan : Rasanya Ingin Membangun Habit Positif

 


 

Perilaku dan kebiasaan seseorang tidak lepas dari penilaian orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Dampak dari penilaian tersebut juga bermacam-macam tergantung predikat apa yang disandangkan. Dalam hal ini memang kita bisa bersandar pada kata-kata mujarab dalam bahasa Jawa “wong liyo ngerti opo” (orang lain tau apa).

Pada kenyataannya dalam kehidupan sebagai makhluk sosial kita dihadapkan dengan penilaian baik dan buruk orang lain, dimana efeknya tidak hanya bagi yang dinilai dan penilai, tetapi juga masyarakat secara luas.

Hidup bermasyarakat memang harus bisa menjaga norma-norma yang ada untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri ataupun orang lain, sehingga nantinya akan terhindar dari munculnya konflik antar sesama.

Rasulullah SAW saja yang hidupnya dijaga dari dosa (ma’sum) serta tidak pernah dzalim terhadap sesama masih saja memiliki pembenci dan musuh, apalagi umatnya yang sekarang yang jelas-jelas tidak ma’sum sering melakukan kesalahan baik disengaja maupun tidak.

Imam Syafi’i ra berkata:

إنك لاتقد ر أن تر ضي الناس كلهم , فأصلح مابينك وبين الله, ولاتبال بالناس

“Sesungguhnya engkau tidak akan mampu membuat semua manusia senang, maka perbaikilah hubungan antara diri kita dengan Allah, dan jangan pedulikan apa kata manusia."

Memiliki kesalahan merupakan sebuah hal yang wajar bagi manusia, karena memang manusia itu tempatnya salah dan lupa “Al- Insanu mahallul khota’ wa nisyan”. Namun sebagai khalifah di muka bumi ini manusia harus terus menebarkan kebaikan, yang merupakan perintah dari Allah dan Rasulullah.

Hidup di dunia ini mustahil jika tidak berseteru dan berbeda pendapat dengan orang lain yang yang terkadang menimbulkan kebencian. Jadi fokuslah pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan terus berusaha menjaga hubungan baik secara vertikal dengan Allah SWT dan secara horizontal dengan sesama makhluk.

Momentum bulan Ramadhan bulan suci yang penuh keberkahan ini dapat kita manfaatkan untuk mulai membentuk habit atau kebiasaan yang positif guna langkah kehidupan kedepannya. Pak Fahrudin Faiz seorang pakar filsafat menuturkan ada enam alat penting yang dapat dimanfaatkan untuk membentuk habit positif secara efektif;

Pertama, akal atau yang sering kali kita pahami sebagai kecerdasan intelektual. Kedua, panca indera atau kemampuan untuk merasakan dunia sekitar. Ketiga, naluri atau insting yakni kemampuan alami untuk menangkap informasi secara instingtif. Keempat, nurani atau penggunaan perasaan untuk memahami orang lain dan berempati. Kelima, intuisi atau pengetahuan yang muncul dari pengalaman pribadi dan refleksi. Keenam, imajinasi atau kemampuan untuk memvisualisasikan dan menciptakan sesuatu yang baru dari informasi yang dimiliki.

Berdasarkan penuturan Pak Fahrudin Faiz tentang enam alat yang dapat dimanfaatkan untuk membentuk sebuah habit atau kebiasaan yang efektif ini tidak akan dapat berhasil jika tidak dimanfaatkan secara maksimal. Seperti halnya kita punya link series Guyon Madhon tapi tidak pernah kita buka untuk membacanya maka tidak akan menemukan sebuah kelucuan didalamnya.

Selain menuturkan alat-alat yang bisa kita manfaatkan untuk mencapai habit yang positif, Pak Fahrudin Faiz juga sangat berbaik hati memberikan beberapa langkah praktis untuk membangun habit yang mendukung pencapaian tujuan;

Pertama, penting untuk memiliki tujuan yang jelas, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan kesulitan mengukur kemajuan dan kesuksesan. Orang yang punya tujuanlah yang bisa bilang saya maju atau belum maju, saya sukses atau belum suskes.

Kedua, menentukan nilai-nilai yang ingin dipegang teguh dalam hidup. Nilai-nilai tersebut harus disesuaikan dengan tujuan hidup, agar seseorang bisa merasa konsisten dan sesuai dengan prinsipnya. Setiap kita punya nilai sendiri yang ingin kita tegakkan, nilai yang ingin kita hidupkan, mari dievaluasi cocok atau tidak dengan tujuan kita.

Ketiga, memiliki lingkungan yang mendukung, membangun kebiasaan yang baik akan sulit tercapai tanpa dukungan dari orang-orang di sekitar, sulit membangun habit kalau tidak punya circle yang cocok.

Pembentukan habit ini langkahnya harus punya tujuan yang jelas ya, jangan sampai tujuannya tidak jelas apalagi sampai tidak punya tujuan, jadi nanti mau berlabuh dimana kalau tidak punya tujuan. Selanjutnya harus punya nilai-nilai sebagai prinsip hidup yang sesuai dengan tujuan yang bukan hanya dipegang tapi juga ditegakkan. Nah, yang terakhir yang tidak kalah penting adalah punya ruang atau tempat yang mendukung bukan tempat yang merundung.

Selamat mencoba menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan membangun habit positif, jika gagal boleh mencoba lagi kok, jangan sungkan-sungkan. Habiskan jatah gagal dimasa mudamu. Kalau belum habis-habis boleh minta bantuan teman buat menghabiskan ya.

 

 

Kontributor : Rizky Syariful Fikri

Editor         : Wiwid Fitriyani

Design       : M Helmi Kurniawan

 

 

Sumber: nuonline.com

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kawan atau sekedar Klik

  Ponsel Alya bergetar berkali-kali sebelum azan Subuh. Kembali, grup WhatsApp IPNU-IPPNU penuh dengan pesan. Semuanya dimulai dengan poster pendidikan, stiker, jokes, dan perdebatan panjang tanpa peringatan tentang siapa yang bertanggung jawab atas jadwal pengajian. Bahasa mulai meninggi. Perlahan-lahan muncul sarkas, seolah-olah mereka dapat membenarkan sikap yang tidak akan pernah mereka katakan jika mereka berhadapan langsung. "Kenapa sih grup pengkaderan malah seperti ring tinju?" tanya Rania, yang masih terpejam. Alya hanya berfokus pada layar. Ia merasa ada kesalahan. Namun, di mana letak kesalahannya? Di kelas filsafat keesokan harinya, Dosen Munir menulis sebuah kalimat besar di papan tulis: “mengatakan sesuatu berarti melakukan sesuatu” Alya memperhatikannya baik-baik. Austin (1911) filsuf Inggris, meyakini bahwa ucapan manusia bukan sekadar deskripsi. Ucapan adalah tindakan. Ketika seseorang mengatakan "saya janji" , ia tidak hanya menyebut fakt...

Philosophia Chapter 03 : Cinta dan Makna: Antara Romantisme dan Rasionalitas

  Pagi itu, langit Pesantren Al-IMRON diselimuti mendung. Angin berhembus pelan, membawa bau tanah yang khas setelah hujan semalam. Di sela kegiatan organisasi, Rizal adalah seorang kader aktif   IPNU, dia menemukan selembar surat di dalam buku Kaidah Usul Fiqh miliknya. Tulisan tangan itu rapi, seolah ditulis dengan hati-hati, dan di pojok kanan atas terdapat simbol kecil: setangkai mawar dan pena bersilang. "Kepada Rizal yang berpikir lebih banyak daripada bicara. Apa yang lebih membingungkan dari cinta? Aku rasa tidak ada. Kita diajari mencintai sesama karena Allah, tapi bagaimana bila perasaan itu tumbuh bersama kekaguman? Apakah itu salah? Atau hanya bentuk cinta yang belum dijelaskan oleh ustadz-ustadz kita?” Di dunia Plato (427 SM), ada dua cinta: Eros dan Philia . Tapi tidak satu pun dijelaskan dalam forum organisasi. Jadi aku bertanya padamu, kader filsafat: apakah kita hanya boleh mencintai dalam batas rasionalitas saja?" Tak ada nama pengirim. Hanya inisi...

Hasil Konferancab XVII PAC IPNU-IPPNU KOTA KENDAL : Semoga Menghasilkan Ketua Terpilih yang Dapat Membawa Kebermanfaatan

    Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPPNU) Kota Kendal menggelar Konferensi Anak Cabang (Konferancab) IPNU IPPNU XVII pada 8 Juni 2025. Acara ini dilaksanakan di SMA NU 01 Al Hidayah Kendal dengan mengundang dari MWC NU Kecamatan Kendal, Banom NU Kecamatan Kendal, PC IPNU - IPPNU KENDAL, PC IPM Kendal serta beberapa stakeholder terkait. Selain itu, lokasi tersebut dipilih karena tempatnya yang strategis dan fasilitas cukup memadai, serta pengenalan salah satu sekolah yang ada dibawah naungan LP Ma'arif NU. Ketua Panitia Konferancab, Jaka Purwanto, menegaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk mengevaluasi program kerja serta memilih ketua untuk masa khidmat dan masa bakti selanjutnya. Dalam pencalonan ini terdiri beberapa calon yang sudah direkomendasikan oleh beberapa Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Komisariat (PK) yang ada di Kecamatan Kendal. Ketua Tanfidziah MWC NU Kendal, KH. Mokh A...